Seorang profesor yang menjadi rektor universitas terbaik di suatu negara berkunjung ke sebuah desa terpencil di pinggir pantai karena bosan dengan apa yang dialami olehnya belakangan hari ini. Ia merasa lelah. Dahulu, ketika masih menjadi siswa SMU, ia ingin melanjutkan ke Fakultas Kedokteran di Perguruan Tinggi ternama. Setelah masuk kedalamnya, ia berusaha menjadi mahasiswa terbaik. Ia berhasil. Dengan perjuangan kuliahnya selama 6 tahun, ia lulus dari universitas itu dengan predikat lulusan terbaik. Berbagai “Bagian” pun berebut menawarkannya untuk melanjutkan program spesialisasi didalamnya. Ia memutuskan masuk ke bagian penyakit dalam, dengan harapan bisa menjadi dokter ahli penyakit dalam terbaik di negaranya. Lagi-lagi harapannya dikabulkan oleh Allah swt. Setelah menjadi dokter spesialis penyakit dalam, pasiennya terus bertambah setiap harinya. Tak puas dengan pendidikannya, ia meneruskan program S3-nya di Perancis. Setelah kembali ke negaranya, ia dipromosikan untuk menjadi guru besar. Tak lama menjadi guru besar, lagi-lagi ia naik jabatan menjadi rektor perguruan tinggi tersebut. Tak menjadi rektor, ia pun dipromosikan menjadi Menteri Kesehatan. 5 tahun sudah ia menjadi Menteri Kesehatan. Sebentar lagi pemerintahan pun berganti alih. Tak mungkin ia menjadi Presiden karena ilmu yang dimilikinya untuk mengatur suatu negara belumlah cukup. Menjadi menteri lagi, hal itu tidak sesuai dengan alur riwayat kehidupannya sejak dahulu.
Di desa pinggir pantai yang terpencil, jauh dari gemerlapnya kota yang semakin dipenuhi oleh plaza dan mall, profesor itu bertemu dengan nelayan yang sedang menghitung tangkapan ikannya.
Profesor : Dapat berapa hari ini?
Nelayan : Seperti biasa.
Profesor : Mau terus pulang setelah ini?
Nelayan : Ya, setelah ini saya berkumpul bersama keluarga saya, bercengkrama bersama anak saya, dan minum kopi di beranda ditemani istri saya.
Rupanya nelayan tidak menyadari sedang berbicara dengan seorang menteri.
Profesor : Sudah berapa jam melaut?
Nelayan : Baru 1 jam. Tapi ini sudah cukup untuk keluarga saya.
Profesor : Mengapa tidak lebih lama lagi? Bukankah engkau akan mendapatkan ikan yang lebih banyak?
Nelayan : Untuk apa?
Si Profesor mengerutkan keningnya.
Profesor : Ya untuk dijual.
Nelayan : Untuk apa uangnya?
Profesor : Beli perahu yang lebih besar
Nelayan : Untuk apa perahu yang lebih besar?
Profesor : Bukankah dengan perahu yang lebih besar kau akan dapat ikan yang lebih banyak?
Nelayan : Untuk apa ikan yang banyak?
Profesor : Jelas untuk dijual lagi.
Nelayan : Untuk apa uangnya?
Profesor pun diam tak menjawab. Nelayan yang sudah selesai menghitung ikannya langsung menjawab tanpa menunggu jawaban dari si profesor.
Nelayan : Bukankan setelah itu saya akan kembali berkumpul bersama keluarga saya, bercengkrama bersama istri saya, dan bermain bersama anak saya?
Interesting story, isn’t it? Jelas, siapa dulu yang ngarang, hehe. Udah lama gak nulis lagi nih. Sekarang blog di FS jadi pelampiasan gini. Smoga banyak yang baca, ya, dan bisa ditarik kesimpulannya. Sebenernya bagus gak sih jadi orang ambisius? Ada bagusnya, ada nggaknya. Ada satu, mungkin, golongan ambisius yang bagus, yaitu yang bisa bersyukur kepada Tuhannya. Gw sendiri mengakui bahwa gw termasuk orang yang ambisius banget belakangan ini. Termasuk waktu gw ikutan entrance examnya NTU. Ah, kadang gw ngerasa bodoh banget. Ngapain juga ikutan. Gw baru sadarnya abis diterima. Kayak ada yang bisikin gw “den, lo tuh harusnya bersyukur atas apa yang diberikan Allah”.
Tadi seharian di Perpustakaan, download 500 Mb! Dahsyat banget kan. Abis itu pulang. Niatnya pengen jemput ibu, tapi gak jadi. Karena sendirian dirumah, bosen, jadi nelpon. Udah lama juga tuh orang gak gw telpon. Dia tadi langsung loncat-loncatan gak ya waktu gw telpon? Hehe.. (geer banget)
Malam ini gak bisa cerita banyak, nih. Ada banyak alasan sih:
1. Karena emang gak ada yang mau diceritain
2. Karena besok mau lomba
3. Karena tulisan ini rencananya mau gw masukin blog yang di FS. Makanya gak boleh cerita macem-macem, hehe.
Oia, yang nomer 2 kyanya harus dibahas tuh. Besok Final BNPC. Pertama ngebela UI. Pertama ikutan lomba programming saat kuliah. Di tahun pertama. Apalagi yang pertama ya? Oia, mudah-mudahan jadi juara pertama! =p