Siapa yang marah? Alam atau Tuhan?

Ada pertanyaan menarik yang mengusik gw di pagi ini: Siapa yang sedang marah? Apakah alam atau Tuhan? Namun, karena tidak urung menemukan jawaban, benak gw memunculkan 1 pertanyaan lain: Kenapa mereka bisa marah?

Gempa bumi di Yogyakarta belum lama berlalu. Sukarelawan yang terjun langsung ke lokasi gempa pun belum urung menyelesaikan ‘kewajibannya’. Namun, di kabupaten yang letaknya tidak jauh dari Yogya, yaitu Sidoarjo, tepatnya di Desa Siring, sudah menyusul lumpur panas yang meluluhlantahkan mayoritas sawah disana. Beruntung bagi warga yang tidak menggantungkan hidupnya pada hasil pertanian. Tetapi bagaimana dengan warga yang untuk makan sehari-harinya hanya bergantung pada sawah mereka?

Maka, tidak ada yang bisa disalahkan atas tindakan warga yang menjebol tanggul penutup yang mencegah agar lumpur panas tersebut tidak membanjiri jalan tol. Meskipun jalan tol tersebut merupakan salah satu akses yang penting. Ya, memang tidak ada yang bisa disalahkan.

Termasuk PT Lapindo Brantas. Ketika ‘dituduh’ telah melakukan pelanggaran terhadap analisis mengenai dampak lingkungan, tentu saja mereka berargumen bahwa lumpur panas itu akibat dari gempa tektonik di Yogya. Ya, kita tidak bisa berkata apa-apa lagi. Peneliti dari Canada dan Amerika Serikat telah diterjunkan ke lokasi untuk meneliti asal lumpur panas itu.

Kalau terbukti PT Lapindo Brantas melakukan pelanggaran, sudah sepatutnya kita menangis. Memohon ampun kepada Yang Maha Kuasa. Sebagai yang dipercaya menjadi khalifah di muka bumi ini, kita tidak mampu menjaga bumi dengan baik.

Ah, pertanyaan pertama gw tadi otomatis terjawab. Siapa yang sedang marah? Alam atau Tuhan? Atau masih ada yang bingung?

Oleh Deni Lukmanul Hakim (ya, iya, lah) :D

Leave a Reply